Selasa, 09 Juli 2013

HEMAT LISTRIK DENGAN LAMPU LIMAR



Indonesia merupakan salah satu negara berkembang. Dari waktu ke waktu Indonesia semakin maju, begitu juga teknologi di Indonesia yang terus berkembang pesat. Sebagian warga Negara Indonesia sangat familiar dengan peralatan teknologi modern dalam melakukan kegiatannya sehari-hari. Bahkan anak-anak zaman sekarang sudah terbiasa menggunakan peralatan tersebut. Akan tetapi dibalik itu semua tersimpan sebuah masalah yang mencolok dan berbanding terbalik dengan keadaaan diatas. Hampir 29 persen masyarakat di Indonesia tidak bisa menikmati listrik dan kebanyakan tinggal didaerah terpencil dan kondisi perekonomian dibawah rata-rata.
Hal ini tentu sangat ironis. Pemerintah yang harusnya lebih memperhatikan masyarakat kecil malah membiarkan ini berlarut-larut. Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN, Bambang Dwiyanto mengungkapkan bahwa Ini merupakan sebuah tantangan bagi kami. Bukan cuma buat PLN, karena sesuai Undang-Undang Ketenagalistrikan Nomor 30 Tahun 2009, kewajiban penyediaan tenaga listrik juga ada di pundak pemerintah daerah melalui badan usaha milik daerah. Oleh karena itu kami akan terus bekarja keras agar seluruh warga Negara Indonesia dapat menikmati listrik.
Kapasitas terpasang listrik PLN saat ini mencapai 31.930 megawatt (MW) yang dihasilkan melalui 4.991 unit pembangkit. Jumlah pelanggan 48.659.667 pelanggan, dengan pelanggan rumah tangga mencatat jumlah terbanyak, yakni 45.152.244 pelanggan. Sementara itu, jumlah pelanggan listrik prabayar mencapai 6,6 juta.
Listrik sering dipersepsi sebagai penerangan atau lampu. Hal ini tentu menyalah artikan peran listrik yang juga merupakan energi yang sangat vital dalam kebutuhan hidup. Dan tentu saja masyarakat yang belum mendapat akses terhadap listrik masih kesulitan dalam melakukan kegiatannya sehari-hari. Dalam menanggapi hal ini,  PLN mengklaim sudah melakukan upaya terobosan. Di antaranya dengan memberikan lampu SEHEN (super ekstra hemat energi) dengan memanfaatkan energi matahari kepada pelanggan di daerah remote yang sangat sulit dijangkau jaringan listrik.

pada thun 2008 silam, Ujang Koswara salah seorang mantan dosen Politeknik Swiss-ITB merintis sebuah lampu hemat energi dengan menggunakan tenaga listrik dari aki kendaraan bermotor. Lampu ini diberinama Limar yang merupakan Listrik Mandiri Rakyat. Hal ini dimaksudkan bahwa lampu ini dibuat untuk membantu masyarakat didaerah terpencil sehingga bisa mendapat penerangan.
Lampu Limar berbentuk seperti bohlam biasa, dibuat dari 19 lampu LED sebagai sumber cahaya yang dipasang melingkar agar cahayanya tersebar merata secara luas. Desain cangkang lampunya dengan bentuk seperti bola golf, setiap lampu dayanya 1,5 watt yang terangnya setara 10 watt lampu biasa. Sumber energi lampu limar berasal dari aki basah yang biasa dipakai pada motor atau mobil. Contoh dengan aki mobil berkapasitas 35 Ampere Hour, akan habis selama 12 hari jika dipakai untuk menyalakan 5 lampu Limar sekaligus selama 12 jam setiap hari. Jika kelima lampu terpasang 8 jam setiap hari, aki bisa dipakai untuk 16 hari. Sehingga isi ulang aki bisa hanya sebulan sekali.
Hal ini tentu mendapat apresiasi yang baik dari pemerintah. Bahkan pemerintah berencana mengembangkan lampu limar ini menjadi lebih berkembang dan diproduksi secara masal. Hasilnya industri lampu limar didirikan di kota Bandung. Dengan ini pemerintah juga sangat berharap lampu limar ini bukan hanya disarankan digunakan untuk masyarakat yang tinggal didaerah terpencil saja, tapi juga untuk masyarakat luas Karen bisa menghemat penggunaan energi listrik sampai 50%. (husen al sabah).
Sumber:
http://www.radartarakan.co.id/index.php/kategori/detail/Nunukan/17515
http://www.inilahkoran.com/read/detail/1933662/lapas-wanita-bandung-pilot-project-produksi-limar


http://bankinfomania.blogspot.com/2013/04/lampu-ujang-ramah-terhadap-dunia.html
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/362686-29-persen-masyarakat-ri-belum-tersentuh-listrik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar