Indonesia merupakan salah satu negara berkembang. Dari waktu ke
waktu Indonesia semakin maju, begitu juga teknologi di Indonesia yang terus
berkembang pesat. Sebagian warga Negara Indonesia sangat familiar dengan
peralatan teknologi modern dalam melakukan kegiatannya sehari-hari. Bahkan
anak-anak zaman sekarang sudah terbiasa menggunakan peralatan tersebut. Akan
tetapi dibalik itu semua tersimpan sebuah masalah yang mencolok dan berbanding
terbalik dengan keadaaan diatas. Hampir 29 persen masyarakat di Indonesia tidak
bisa menikmati listrik dan kebanyakan tinggal didaerah terpencil dan kondisi
perekonomian dibawah rata-rata.
Hal ini tentu sangat ironis. Pemerintah yang harusnya lebih
memperhatikan masyarakat kecil malah membiarkan ini berlarut-larut. Manajer
Senior Komunikasi Korporat PLN, Bambang Dwiyanto mengungkapkan bahwa Ini
merupakan sebuah tantangan bagi kami. Bukan cuma buat PLN, karena sesuai
Undang-Undang Ketenagalistrikan Nomor 30 Tahun 2009, kewajiban penyediaan tenaga
listrik juga ada di pundak pemerintah daerah melalui badan usaha milik daerah. Oleh
karena itu kami akan terus bekarja keras agar seluruh warga Negara Indonesia
dapat menikmati listrik.
Kapasitas terpasang listrik PLN saat ini mencapai 31.930 megawatt
(MW) yang dihasilkan melalui 4.991 unit pembangkit. Jumlah pelanggan 48.659.667
pelanggan, dengan pelanggan rumah tangga mencatat jumlah terbanyak, yakni
45.152.244 pelanggan. Sementara itu, jumlah pelanggan listrik prabayar mencapai
6,6 juta.
Listrik sering dipersepsi sebagai penerangan atau lampu. Hal ini
tentu menyalah artikan peran listrik yang juga merupakan energi yang sangat
vital dalam kebutuhan hidup. Dan tentu saja masyarakat yang belum mendapat
akses terhadap listrik masih kesulitan dalam melakukan kegiatannya sehari-hari.
Dalam menanggapi hal ini, PLN mengklaim
sudah melakukan upaya terobosan. Di antaranya dengan memberikan lampu SEHEN
(super ekstra hemat energi) dengan memanfaatkan energi matahari kepada
pelanggan di daerah remote yang sangat sulit dijangkau jaringan listrik.
pada thun 2008 silam, Ujang Koswara salah seorang mantan dosen Politeknik Swiss-ITB merintis sebuah lampu hemat energi dengan menggunakan tenaga listrik dari aki kendaraan bermotor. Lampu ini diberinama Limar yang merupakan Listrik Mandiri Rakyat. Hal ini dimaksudkan bahwa lampu ini dibuat untuk membantu masyarakat didaerah terpencil sehingga bisa mendapat penerangan.
Lampu Limar berbentuk seperti bohlam biasa, dibuat
dari 19 lampu LED sebagai sumber cahaya yang dipasang melingkar agar cahayanya
tersebar merata secara luas. Desain cangkang lampunya dengan bentuk seperti
bola golf, setiap lampu dayanya 1,5 watt yang terangnya setara 10 watt lampu
biasa. Sumber energi lampu limar berasal dari aki basah yang biasa dipakai pada
motor atau mobil. Contoh dengan aki mobil berkapasitas 35 Ampere Hour, akan
habis selama 12 hari jika dipakai untuk menyalakan 5 lampu Limar sekaligus
selama 12 jam setiap hari. Jika kelima lampu terpasang 8 jam setiap hari, aki
bisa dipakai untuk 16 hari. Sehingga isi ulang aki bisa hanya sebulan sekali.
Hal ini tentu mendapat apresiasi yang baik dari
pemerintah. Bahkan pemerintah berencana mengembangkan lampu limar ini menjadi
lebih berkembang dan diproduksi secara masal. Hasilnya industri lampu limar
didirikan di kota Bandung. Dengan ini pemerintah juga sangat berharap lampu
limar ini bukan hanya disarankan digunakan untuk masyarakat yang tinggal
didaerah terpencil saja, tapi juga untuk masyarakat luas Karen bisa menghemat
penggunaan energi listrik sampai 50%. (husen al sabah).
Sumber:
http://www.radartarakan.co.id/index.php/kategori/detail/Nunukan/17515http://www.inilahkoran.com/read/detail/1933662/lapas-wanita-bandung-pilot-project-produksi-limar
http://bankinfomania.blogspot.com/2013/04/lampu-ujang-ramah-terhadap-dunia.html
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/362686-29-persen-masyarakat-ri-belum-tersentuh-listrik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar