Integrasi Produksi
– Distribusi pada Supply Chain dengan Pendakatan Hybrid Analitik – Simulasi
Annisa Kesy
Garside, R. Hadi Wahyuono, Tiananda Widyarini
1.
PENDAHULUAN
Proses Utama
dalam sebuah Supply chain adalah perencanaan produksi dan distribusi. Linear Programing
(LP) dan Mixed Intteger Programing (MIP) merupakan program yang banyak
digunakan untuk membuat analitik pada problem integrasi produksi distribusi. Model
Simulasi merupakan alat evaluasi
performansi yang efektif dan alat
pemodelan stokastik yang paling kompleks untuk memvisualisasikan perencanaan
produksi distribusi yang bisa beradaptasi dengan berbagai kebijakan persediaan
. Model simulasi menggambarkan network supply chain yang berbeda namun hasil
simulasi menunjukan solusi model analitik menjadi tidak layak, sehingga
diperlukan penyesuaian atau penambahan kapasitas pada saat
diimplementasikan.Tujuan penelitian untuk mengembangkan pendekatan hybrid
analitik-simulasi dalam menyelesaikan problem integrasi produksi-distribusi
pada sebuah SC.
2. Metode
Penelitian
Garside mengembangkan model integrasi produksi-distribusi untuk
menentukan jenis produk yang harus diproduksi, jumlah produksi, kuantitas dan
jumlah pengiriman dari masing-masing pabrik ke masing-masing DC, serta
persediaan di pabrik dan DC. Persediaan tersebut berfungsi sebagai safety stock sehingga pabrik dan DC
dapat mengantisipasi ketidakpastian permintaan dan pasokan yang berlangsung
dalam supply chain dan anticipation/seasonal stock dimana
pabrik dan DC menggunakan persediaan yang dibuat pada periode permintaan rendah
untuk memenuhi permintaan pada musim puncak. Model ini memodifikasi model yang
telah dikembangkan sebelumnya dengan mengijinkan permintaan tidak terpenuhi
jika tidak menggunakan alokasi persediaan dan pabrik akan kehilangan biaya
kesempatan untuk memenuhi permintaan tersebut. Variabel keputusan dalam model
integrasi produksidistribusi dinyatakan sebagai berikut :
3. PERANCANGAN
MODEL SIMULASI
Perancangan model simulasi menggunakan software ARENA dan
VBA yang terintegrasi dalam software tersebut. Data-data yang diinputkan
pada model simulasi meliputi:
(1) Rencana produksi –
distribusi yang dihasilkan dari model analitik. Untuk mempermudah proses input
dikembangkan Worksheet Excel yang terintegrasi dengan VBA ARENA sehingga setiap
perubahan secara otomatis akan merubah model simulasi.
(2) Waktu produksi tiap
produk di tiap pabrik.
(3) Jarak dari tiap pabrik ke tiap DC.
(4) Kecepatan kendaraan.
(5) Waktu antar kerusakan
dan perbaikan mesin di masing-masing pabrik.
(6) Waktu antar kerusakan dan waktu perbaikan masing-masing
kendaraan.
Step 1.
Kapasitas waktu telah disesuaikan sehingga diperoleh kapasitas waktu produksi
di tiap pabrik dan waktu pengiriman masingmasing kendaraan untuk iterasi ke-i.
Step 2.
Menentukan rencana produksi dan distribusi di masing-masing pabrik pada tiap
periode dengan menggunakan model analitik berdasarkan kapasitas dari step 1.
Step 3.
Menjalankan model simulasi berdasarkan solusi dari step 2 dengan replikasi
sebanyak 15 kali.
Step 4.
Menghitung selang kepercayaan rata-rata waktu simulasi di masing-masing pabrik
pada tiap periode dengan menggunakan uji t
pada tingkat kepercayaan 95%.
Step 5.
Menetapkan batas atas/nilai maksimum dari selang kepercayaan sebagai waktu
simulasi di pabrik ke-p pada
periode k-t.
Step 6.
Jika waktu simulasi pada masing-masing pabrik pada tiap periode tidak melebihi
kapasitas waktu yang tersedia maka berhenti/ stop. Jika masih ada salah satu
yang belum memenuhi, lanjutkan step 7.
Step 7. Cek waktu simulasi pada masing-masing
pabrik pada tiap periode. Jika waktu simulasinya sudah lebih kecil dari waktu
tersedia maka lanjut ke step 8. Jika tidak, lanjutkan ke step 9 dan 10.
Step 8. Tetapkan kapasitas waktu yang
telah disesuaikan untuk iterasi ke-i+1
sama dengan iterasi ke-i.
4. HASIL
DAN PEMBAHASAN
Prosedur hybrid
analitik-simulasi digunakan untuk menyelesaikan sebuah problem integrasi
produksi-distribusi yang berlangsung pada two echelon supply chain.
5. SIMPULAN
Solusi awal
model analitik tidak dapat diimplementasikan direalita yang memiliki
karakteristik stokastik oleh karena itu penyesuaian kapasitas waktu digunakan untuk megubah nilai sisi kanan pada
pembatas kapasitas waktu produksi di pabrik dan kapasitas waktu yang
dimiliki tiap kendaraan pada modelanalitik. Hasil dari penyesuaian kapasitas
secara signifikan mempengaruhi rencana produksi-distribusi. Konsekuensi yang
harus ditanggung supply chain dengan implementasi pendekatan hybrid
analitik-simulasi adalah penambahan biaya setup pabrik, produksi pada pabrik dengan
biaya produksi, simpan dan
pengiriman yang lebih mahal, serta biaya kesempatan yang hilang untuk
memenuhi permintaan langsung konsumen. Namun dengan menggunakan keunggulan dari
kedua model tersebut maka pencarian
solusi akan mempertimbangkan struktur biaya yang harus dikeluarkan dan
faktor stokastik yang terjadi pada supply chain sehingga solusi yang diperoleh
mendekati optimal dan layak untuk diimplementasikan di realita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar